Faktor-faktor yang Menyebabkan Kehancuran Gerakan Dakwah
Table of Contents
Berikut
ini adalah beberapa faktor umum yang menyebabkan keporak-porandaan
bangunan dakwah seperti dijelaskan oleh Dr. Fathi Yakan dalam bukunya
Robohnya Dakwah di Tangan Da'i. Beberapa faktor umum ini beliau
ringkas dalam
beberapa poin berikut, semoga
bermanfaat:
DAFTAR ISI [klik untuk langsung ke konten]
- Orientasi Massal Abaikan Pembinaan
- Perhatian Berlebihan Terhadap Slogan
- Perhatian Berlebih terhadap Kuantitas
- Keterbukaan Dalam Segala Hal
- Tiadanya Kesadaran Politik
- Jalan Pintas
- Lemahnya Aspek Pembinaan
- Membudayanya Ghibah dan Namimah
- Lunturnya Kepercayaan Terhadap Pemimpin
- Munculya Sentral Kekuatan Dalam Barisan
- Kegagalan dan Kehancuran Bangunan Gerakan
1. Orientasi Massal Abaikan Pembinaan
Dalam melakukan dakwah Islam,
banyak kelompok dan organisasi dakwah menggunakan pola masif dalam
aktifitas dakwahnya. Tujuannya menciptakan arus atau
basis massa Islam
secara umum. Dengan kata lain, membangun Islam tidak dengan pola
kaderisasi, namun sepenuhnya kerja yang bersifat massal dan sosial.
Pada mulanya, kedua model ini
memang dipadukan. Kelompok dakwah ini memadukan antara kerja yang
bersifat aktivitas organisasi gerakan dan proses pembinaan dan
kaderisasi. Namun beberapa saat kemudian, haluan diubah kebentuk
organisai murni dan kepartaian.
Sebenarnya, penggunaan pola
kerja yang bersifat massal di awal langkah, seringkali menyebabkan
organisasi dakwah tidak mampu menciptakan proses pembinaan terhadap
unsur-unsur SDM maupun perangkat-perangkat lain yang berfungsi
mengikat serta membimbing masyarakat yang mengikuti dikemudian hari.
Bekerja dengan pola seperti
ini dapat menjadi faktor penyebab masuknya beragam unsur luar dalam
barisan dakwah, bahkan pada pos-pos yang strategis dan menentukan.
- Diantara mereka ada orang
yang tidak memahami sedikit pun tentang Islam, meskipun hanya
prinsip-prinsip dasarnya. Namun karena longgarnya seleksi, ia bisa
menduduki posisi yang strategis dalam suatu lembaga dakwah.
- Diantara mereka ada yang
masuk keorganisasi demi kepentingan pribadi, baik materi, politik,
keamanan atau yang
lainnya.
- Diantara mereka ada yang
bahkan menjadi mata-mata atau agen intelijen, yang selalu mengawasi
dan memantau aktifitas sehingga dapat mengukur kekuatannya.
Demikianlah, mayoritas
negeri-negeri
Islam memberikan loyalitasnya kepada Islam dan dakwah secara kabur
dan kontradiktif dan simpang-siur, sehingga bukannya menguatkan
bangunan umat, namun justru menjadi beban gerakan dakwah dan penyakit
harianya.
ke Daftar Isi ↑
2. Perhatian Berlebihan Terhadap Slogan
Dalam geraknya, pola dakwah
yang berorientasi pada massa biasanya lebih banyak mengandalkan
slogan daripada isi,
jargon dan bukan konten.
Sebab barangkali karena aspek ini lebih mudah dikalkulasi dan didata.
Gerakan dakwah, apabila tidak
mampu mengubah slogan menjadi kenyataan atau mewujudkan konsep
menjadi realitas, akan kehilangan kehormatan dan pengaruhnya.
Akhirnya ia tidak mampu mewujudkan tujuan-tujuan yang lebih besar dan
lebih jauh.
Islam memberi perhatian secara
fokus pada substansi dan kandungan, tanpa mengabaikan fisik dan
kemasannya. Perhatian pada substansi lebih banyak dari pada nama,
kemasan, dan slogan.
Allah Swt.berfirman,
“Dan
apabila kamu melihat mereka,tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.
Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka
seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap
teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.” (Al-Munafiqun
: 4)
Rasulullah bersabda,
“sesungguhnya
Allah tidak melihat fisikmu dan hartamu, tetapi Allah melihat kepada
amal dan hatimu”
(HR. Ibnu Majah)
Kelompok-kelompok Islam yang
lebih memperhatikan atribut dan slogan, jelas tidak mungkin mampu
menerjemahkan idealismenya kedalam aktivitas harian yang bisa
disaksikan orang banyak dan mereka ikut merasakannya. Bahkan
seringkali aktivitasnya bertentangan dengan slogan yang senantiasa
digembar gemborkan. Inilah sesungguhnya yang menjadi unsur penghancur
paling dominan.
Kegiatan memperbanyak bendera,
slogan, dan atribut Islam bukanlah suatu cara untuk mewujudkan
perubahan Islam dan menegakkan hukum Allah Swt. dimuka bumi,
sepanjang bendera, slogan dan atribut itu tidak bisa diterjemahkan
dalam realitas kehidupan nyata umat manusia, baik aspek moral maupun
perundangan.
ke Daftar Isi ↑
3. Perhatian Berlebih terhadap Kuantitas
Salah satu penyakit kronis
yang menjangkiti berbagai macam gerakan pada umumnya adalah
perhatiannya yang berlebihan kepada kuantitas atau bilangan, dan
bukan kualitas. Mereka
begitu gigih menciptakan perluasan wilayah gerakan dan memperbanyak
anggota dengan melupakan upaya memperkukuh dan memperkuat
cengkramannya.
Islam bertolak belakang dari
itu semua. Ia lebih berorientasi kepada kualitas, bukan kuantitas,
kepada mutu bukan
jumlah. Kkendati
kuantitas tentu memiliki nilai tersendiri. Islam
memperhatikan bangkitnya nilai dalam diri manusia serta mengangkat
derajatnya hingga mencapai kesempurnaan kemanusiannya. Islam tidak
berkepentingan dengan tumpukan personel agar mencapai bilangan
sebanyak-banyaknya.
Perang Badar dimenangkan oleh
kualitas personel pasukan yang baik dalam kelangkaan bilangan. Perang
Hunain pun menjadi saksi hancurnya kuantitas yang dibarengi penyakit
sejenis riya dan takabur.
Hal ini untuk meyakinkan bahwa kemenangan sesungguhnya milik orang
beriman meskipun sedikit jumlahnya. Pewaris bumi ini adalah
Hamba-hamba Allah yang saleh.
“Dan
sungguh telah kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam)
lauhul Mahfudz , bahwasannya bumi ini diwaris oleeh hamba-hamba-Ku
yang saleh.” (Al-Anbiya
:105)
Kapanpun, jumlah besar selalu
menjadi beban bagi harakah Islamiah. Karena kamiyah
atau kuantitas itu
selalu dengan nikmat hidup duniawi, yang dilukiskan oleh Firman Allah
Swt,
“Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan apa-apa yang dingini, yaitu
wanita-wanita, anak-anak, harta yang
banyak dari
jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup didunia, dan disisi Allah-lah tempat
kembali yang baik (surga)”
(Ali-Imron : 14)
Dari sini barangkali bisa
difahami rahasia Khalifah Al-faruq Umar bin Khathab r.a. ketika
memilih empat panglima perang yang dikirim untuk membantu Amr bin Ash
pada hari Proklamasi Mesir. Ia tulis, ”Saya
membantu kamu dengan 4
ribu pasukan. Setiap
seribu Pasukan diwakili satu orang. Setiap orang ini menduduki seribu
pasukan. Meraka adalah az
Zubair bin Awam, al
Miqdad bin Amr, Ubadah
bin Shamit, dan Maslamah
bin Mukhallad. Ketahuilah bahwa bersamamu ada 12
ribu pasukan tidak boleh kalah dengan alasan sedikit.”
ke Daftar Isi ↑
4. Keterbukaan Dalam Segala Hal
Salah satu kekeliruan yang
terjadi di negeri-negeri Islam adalah aktivitas dakwah sering
melanggar kaidah “Tidak
setiap yang diketahui itu perlu di katakan. ”
Yang terjadi justru siasat “ Berfikir
dengan suara Vokal”, dengan cara menyikap tabir seluruh aktivitas,
tujuan, dan langkah-langkahnya, baik jangka panjang maupun jangka
pendek. Ini semua bertentangan dengan manhaj Nabi yang sering di
tegaskan Rasulullah Saw. dengan Sabdanya, ”Mintalah
bantuan dengan kitman (penyembunyian) untuk memenuhi setiap
kebutuhan, ” atau
sabdanya, ”
Mintalah
bantuan dengan kitman untuk memenuhi hajat”
(HR.Thabrani dan Baihaqi).
Dalam Al-Qur’an banyak
diisyaratkan mengenai hal ini, salah satunya adalah wasiat Ya’qub
a.s.kepada putranya,
“Dan
Ya’qub berkata, ”Hai anak-anakku, janganlah kamu (bersama-sama)
masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu gerbang yang
berlainan. Namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang
sedikitpun dari (takdir) Allah.” (Yunuf
:67)
Ayat ini merupakan isyarat
dari salah satu Nabi Allah akan perlunya kehati-hatian dan sikap
waspada, tidak menyingkap seluruh kekuatan dan personel. Prinsip yang
paling baik dalam kondisi apapun, kita harus berpijak diatas akidah
‘alaniatul amal
wasiriyatut tandzim.
Maha benar Allah ketika berfirman,
“Hai
orang-orang yang beriman, ambillah kewaspadaan lantas majulah
berkelompok-kelompok atau bersama-sama.”
(Anisa :71)
Sebenarnya cara kerja yang
serba terbuka itulah yang membongkar aktivitas pergerakan, karena
sejak awal bisa diditeksi perinciannya, termasuk personel, pemimpin,
dan kekuatannya secara keseluruhan. Jadilah segala sesuatu tampak
dipermukaan bahkan terekspos tanpa ada sedikitpun sisa yang
disembunyikan. Dampak yang ditimbulkan dari sikap ini sangat besar
dan berbahaya.
Perjalanan dakwah selama ini
dengan segala dinamika peristiwa dimedan perjuangan membuktikan semua
itu. Namun sayang, kesadaran baru lahir tatkala waktu sudah terlambat
dan daya nalar sudah keruh.
ke Daftar Isi ↑
5. Tiadanya Kesadaran Politik
Sebagian orang berfikir bahwa
menegakkan bangunan iman itu tidak perlu ditopang dengan unsur-unsur
penyebab. Tidak perlu adanya kesadaran berpolitik, strategi dan
manajemen, dan ketajaman penalaran atas segala sesuatu. Sebenarnya,
sejak semula Islam mendorong dan mengimbau kita untuk menggunakan
unsur-unsur penyebab, dan salah satunya adalah kesadaran
politik. Dengan
memilki kesadaran berpolitik, kita bisa menyingkap misteri, menangkap
fenomena, dan memahami hal-hal dibalik yang fenomenal.
Sebuah gerakan yang tidak
memilki potensi dan sarana yang bisa mempertajam penglihatan terhadap
problem dan memperluas cakrawala berfikir terhadap segala urusan
untuk memahami hakkat politi, sikap, realitas, konflik yang terjadi,
baik diwilayah lokal, nasional, maupun internasional, mengetahui
kedudukan setiap peristiwa yang terjadi diwilayah-wilayah Islam pada
setiap tingkatannya, adalah sebuah gerakan yang tidak layak diberi
hidup. Ia tidak patut mendapatkan taufik dan tidak pantas meraih
kebaikan. Khusunya dimasa ketika berbagai kepentingan, seperti
kepentingan pemerintah, kepentingan lembaga, partai, dan
kepentingan-kepentingan individu saling tumpang tindih. Upaya
mengurai,
menganalisis, dan menarik kesimpulan menjadi urusan tidak sederhana
dan membutuhkan telaah yang serius dan saran yang mendukung.
Kelompok-kelompok gerakan
dakwah dengan potensi seperti ini sesungguhnya tidak memiliki
cakrawala politik dan potensi SDM yang bisa membantu mengungkap
peristiwa dan menentukan arah politik yang benar dan lurus. Inilah
yang membuat gerakan sering jatuh dalam suasana kontradiktif, baik
ucapan, sikap, maupun perilakunya.
ke Daftar Isi ↑
6. Jalan Pintas
Ada lagi fenomena yang
mencolok dari berbagai kelompok dakwah, yaitu senang menempuh jalan
pintas dalam melakukan perubahan islami di tengah masyarakat. Padahal
perlu dipahami bahwa sesungguhnya faktor waktu memilki nilai dan
kedudukan tersendiri dalam setiap aktivitas perubahan, bahkan
meskipun sekedar langkah perbaikan. Sebuah perubahan yang membutuhkan
sepuluh tahun tidak mungkin diwujudkan hanya dalam waktu setahun.
segala sesuatu yang membutuhkan ratusan tahun tidak bisa
direalisasikan hanya dengan puluhan tahun.
Perubahan Islam dalam
bentuknya yang khusus bukan sekadar masalah memperindah atau mengubah
bentuk, tetapi ia mengganti dengan realitas baru, termasuk dengan
prinsip-prinsip akidah, pemikiran, perundangan, moralitas, dan
budaya. Upaya seperti ini selalu berhadapan dengan kekuatan jahiliyah
diseluruh dunia yang hedak menjegal keberhasilan dan realisasinya.
Karenanya, perlu persiapan yang matang.
Setiap target yang dicanangkan
oleh musuh-musuh Islam, seperti Zionisme,
Zending,
dan Komunisme,
dalam merealisasikan tujuannya, selalu memperhitungkan masa yang
dibutuhkan. mereka beranggapan bahwa sasaran yang mustahil dicapai
hari ini mungkin bisa dicapai hari esok. Rencana yang sulit
direalisasikan hari ini bisa jadi mudah dihari esok. Demikian itu
karena beberapa faktor, antara lain semakin matangnya persiapan,
terciptanya situasi yang kondusif, dan bertambahnya sarana pendukung.
Imam Hasan Al-banna telah
mengisyaratkan hal ini dalam risalah Mu’tamar
Khamis. Beliau
berkata, “Wahai
ikhwan, terutama mereka yang bersemangat dan tergesa-gesa diantara
kalian. Dengarkan suara lantangku, bahwa jalan kalian ini langkahnya
telah digoreskan, batas-batasnya telah diletakkan. Saya tidak
melanggar batas-batas ini, yang telah saya yakini bahwa ia adalah
jalan yang paling selamat untuk sampai tujuan. Tentu saja, jalannya
begitu panjang, namun memang tidak ada jalan selainnya. Sesungguhnya,
kepahlawanan itu hanya dapat terlihat melalui kesabaran, ketahanan,
kesungguhan, dan kerja yang tak mengenal lelah. Barangsiapa diantara
kalian tergesa-gesa ingin menikmati buah sebelum masak atau memetik
bunga sebelum mekar, maka maka saya tidak bersamanya sejenakpun. Ia
lebih baik minggir dari dakwah ini untuk mencari medan yang lain.
Barang siapa bersabar
bersamaku hingga tunas bersemi, pohon tumbuh, buah matang dan layak
dipetik, maka pahalanya disisi Allah. Sekali-kali tidak akan lepas
dari kami dan darinya pahala orang-orang yang berbuat kebajikan.
Hanya ada dua hal; kemenangan dan kekuasaan atau mati syahid dan
kebahagiaan.”
ke Daftar Isi ↑
7. Lemahnya Aspek Pembinaan
Salah satu penyebab hancurnya
berbagai kelompok Islam adalah lemahnya tarbiyah atau pembinaan.
Ada sebuah kepincangan yang
mengharuskan kita berupaya menyingkap dan mengobatinya. Barangkali
kepincangan itu muncul dari sisi konsep pembinaannya. Atau lemahnya
sang Murrabi (pembina), atau bisa pula dari keduanya secara
bersama-sama. Keberhasilan sebuah proses pembinaan ditentukan oleh
sejauh mana lurusnya sistem dan kapasitas pendidik secara
bersama-sama.
Terkadang bisa juga, lemahnya
pembinaan
disebabkan
oleh rapuhnya strategi atau pincangnya aturan-aturan
dan langkah kerja.
Misalnya, satu bidang kerja mendapatkan porsi perhatian demikian
besar, sementara bidang yang lain kurang mendapatkan perhatian.
Lemahnya pembinaan
bisa juga disebabkan oleh terseretnya gerakan dakwah dalam pertikaian
yang tidak mendatangkan manfaat apapun, atau boleh jadi potensinya
terkuras habis dalam sejumlah proyek yang dari segi urgensi maupun
sekala prioritasnya bukan termasuk urutan pertama.
Sesungguhnya lemahnya
pembinaan
itu merupakan kepincangan yang secara perlahan akan melahirkan
penyakit dan problem dalam tubuh gerakan dakwah. Ia membuka peluang
bagi musuh untuk menyalakan api fitnah.
Lemahnya pembinaan
juga menjadi lahan subur bagi tumbuhnya berbagai penyakit hati yang
dapat mengguncang dan memecah belah kehidupan berjamaah dan
berdakwah. Misalnya:
ghibah, namimah,
suka mengintai aib orang, kritik yang tidak membangun, gengsi meminta
maaf, enggan konfirmasi, fanatik dengan pendapat sendiri, angkuh dan
sombong, suka berdebat, hobi menyulut perbedaan pendapat menjadi
perselisihan pribadi, dan kerusakan lainya.
Lemahnya pendidikan akan
mengancam kualitas taqwa dan wara’
anggota gerakan dakwah. Pada akhirnya ini mengakibatkan lemahnya
kekuatan nilai syariat dalam membentuk akhlak, karakter, ucapan, dan
tindakan pada umumnya. Ini dapat mengakibatkan terjerumusnya gerakan
dalam perangkap setan dan nafsu amarah yang pada akhirnya merusak
individu dan jamaah sekaligus.
Sedangkan lemahnya ketakwaan
dan wara’
merupakan pintu masuk bagi hadirnya perasaan menganggap enteng dan
remeh perbuatan dosa serta mempermudah pemenuhan nafsu syahwat. Ini
bisa menjerumuskan diri dalam perbuatan dosa besar yang merusak, yang
dikemas dengan berbagai slogan dan alasan. Semua itu merupakan hasil
pengaburan iblis.
Inilah yang pernah
diisyaratkan Anas r.a. tatkala ia berkata, ”Sesungguhnya
kalian mengerjakan sesuatu amalan yang dianggap lebih kecil nilainya
dari sehelai rambut, padahal dimasa Rasulullah Saw. kami
menganggapnya sebagai dosa besar yang merusak.” (HR Bukhori)
ke Daftar Isi ↑
8. Membudayanya Ghibah dan Namimah
Salah satu faktor yaang
merusak barisan, mengurai ikatan, dan mengguncang bangunan, adalah
lahirnya prilaku suka mengunjing, mengadu domba, mengintai aib orang
lain, banyak bicara, dan tersebarnya itu semua tanpa kendali dengan
alasan memperbaiki keadaan melalui amar makruf nahi munkar.
Penyakit yang berbahaya ini
telah mewarnai gerakan Islam diseluruh wilayah Islam, baik dilingkup
lokal, regional, maupun negara. Hasil yang bisa dirasakan adalah
tumbuhnya rasa rendah diri, porak-prondanya barisan, lunturnya
kepercayaan, serta tersingkapnya kelemahan gerakan dihadapan musuh.
Dari sinilah, maka al-Qur’an
dan hadist dengan keras dan tegas mengingatkan kita melalui firman
Allah Swt.,
“
Sesungguhnya jika tidak
berhenti orang-orang yang munafik, orang-orang yang bepenyakit dalam
hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah
(dari menyakitimu) niscaya kami perintahkan kamu (untuk memerangi
mereka), kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madiah)
melainkan dalam waktu yang sebentar, dalam keadaan terlaknat. Dimana
saja mereka dijumpai, mereka ditangkap dan dibunuh dengan
sehebat-hebatnya. Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang
terdahulu sebelum (mu),dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati
perubahan pada sunnah Allah.”
(Al-Ahzab : 60-62)
Dari
Sufyan bin Abdillah r.a. ia berkata, ”Saya
berkata,’Wahai
Rasulullah, katakan kepadaku sesuatu yang bisa kujadikan pegangan.
’Beliau
menjawab, ’Katakan
bahwa Tuhanku adalah Allah lalu Istiqomahlah’. Saya
berkata, ’Wahai
Rasulullah, apa yang paling anda khawatirkan atas diriku?
’Rasulullah Saw. menunjuk mulutnya sendiri
dan ia
berkata, ’Ini
!” (HR.Tirmidzi)
Dari contoh-contoh diatas bisa
diambil pelajaran bahwa ada gerakan Islam yang hancur, lantaran
membudayanya sikap suka bicara dan menceritakan apa yang didengar
tanpa seleksi. Bermula dari mencela pemimpin lalu ragu-ragu terhadap
konsep, hingga hancurlah bangunan gerakan sama sekali.
Mereka tidak takut kepada
Allah bila menodai kehormatan saudara-saudaranya. Mereka melukai
saudaranya seperti seorang dokter memotong-motong jenazah, atau
seperti tukang jagal memotong hewan, tanpa menjaga ucapan atau etika
perbedaan antar sesama, objektivitas dalam mengkritik, serta
memperhatikan pilihan kata yang tepat ketika melemparkan
pembicaraannya. Rupanya mereka lupa terhadap firman Allah Swt.
“Hai
orang-orang yang beriman,bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu
dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan
Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapatkan kemenagan yang
besar.” (Al-Ahzab
: 70-71)
Mereka juga lupa terhadap
peringatan Rasulullah Saw..’
“Sungguh
salah satu diantara kalian berbicara dengan kata-kata yang mebuat
murka Allah tanpa dipertimbangkan akibatnya, maka Allah menetapkan
dengan ucapannya itu murka-Nya hingga hari kiamat.”
(HR Timidzi)
Hasil dari perbuatan itu
adalah terpecahnya barisan dan guncangnya bangunan. dengan itu, jadi
barisan gerakan sarang yang subur bagi bercokolnya setan. La
haula wala quwata ila billa.
Imam Nawawi rahimahullah telah
mencantumkan satu bab dalan buku Riyadh
Ash-Shalihin yang
diberi nama “Bab
orang-orang yang Menjadi Obyek Gunjingan”
beliau berkata,
”Ketahuilah bahwa
menggunjing boleh dilakukan untuk tujuan yang dibenarkan oleh
syariat, dimana seseorang tidak akan sampai kepada kebenaran itu
kecuali dengannya, yaitu ada enam perkara :
1. Aduan
Seseorang yang teraniaya boleh mengadukan penganiayaannya itu kepada
penguasa atau yang lainnya, dengan tujuan meluruskannya.
2. Minta
bantuan untuk merubah suatu kemungkaran dan menyadarkan orang yang
berbuat maksiat untuk kembali.
3. Minta
fatwa dalam rangka memperoleh kebenaran dan menolak kezaliman
4. Memperingatkan
kaum Muslimin dari kejelekan serta menasehati mereka
5. Menyebutkan
orang fasik dengan segala perangainya setelah ia mnunjukkan dengan
jelas kefasikannya.
6. Boleh
menyebut orang dengan julukan yang telah masyhur seperti
a'masy
(yang kabur matanya), A’raj (yang pincang) dan ahwal (yang juling
matanya). Apabila ada julukan lain yang juga dikenal, sebenarnya
lebih baik,”
ke Daftar Isi ↑
9. Lunturnya Kepercayaan Terhadap Pemimpin
Sebagian faktor yang mendukung
terpecah-belahnya gerakan dakwah dan munculnya sengketa adalah krisis
kepercayaan terhadap pemimpin. Misalnya dalam bentuk
mengungkit-ungkit kelayakan dan kemampuannya memimpin atau
mempertanyakan keistiqomahan dan kesunguhannya dalam memegang
prinsip.
Hal ini terkadang tidak
melahirkan dampak yang berbahaya dan kejelekan yang menyelimutinya,
kalau saja pemimpin menyerahkan urusannya kepada orang lain atau ia
mengundurkan diri demi selamatnya bangunan dakwah dari petaka dan
kehancuran, meskipun demikian, adakalanya dalam situasi tertentu
sikap sebaliknyalah yang benar.
Pemimpin terkadang bertahan
dengan kedudukannya, yang pada hakikatnya ia memancing kedengkian. Ia
munculkan pertikaian, kemudian ia belokan arahnya agar dirinya
selamat walau harus ditebus dengan hancurnya jamaah. Kita mohon
perlindungan kepada Allah dari kejelekan diri dan amal kita.
Benarlah Rasulullah Saw.ketika
bersabda, ” Sesungguhnya
seorang pemimpin itu apabila melahirkan keraguan pada umat manusia,
ia merusak mereka.” (HR.Abu Daud dan Ibnu Hiban).
Dalam kondisi tertentu,
terkadang seorang pemimpin teraniaya. Sedangkan jika ia keluar dari
tanggung jawab, maka yang akan muncul adalah kerusakan dan bencana.
Menghadapi kondisi yang demikian, lebih baik baginya menyerahkan
urusan pada pihak ketiga untuk memutuskan orang kedua. Dengan
demikian, ia akan terlepas dari celaan dan terjauh dari syubhat serta
tanggung jawab.
Agar selamat dari hunjaman
kritik dan tuduhan, sedangkan kepemimpinan tetap bertahan dalam
pengertian yang benar, maka seorang pemimpin harus menjauh dari
syubhat, khususnya hal-hal yang berhubungan dengan urusan materi.
Hendaklah ia menjadikan dirinya orang yang paling zuhud dan paling
jauh dari segala sesuatu yang berbau kenikmatan dan pemanfaatan.
Benarlah Rasulullah Saw.ketika
bersabda,
“Zuhudlah
kamu akan harta dunia, nisvaya Allah akan menyukaimu. Zuhudlah kalian
akan apa-apa yang ada ditangan orang, niscaya orang akan mencintaimu”
(HR. Ibnu Majah)
Dari Auf bin Malik r.a.
berkata, Rasulullah Saw bersabda, ”Sebaik-baik
pemimpin adalah mereka yang kalian cintai dan mencintai kalian, yang
kalian jalin hubungan dan menjalin hubungan dengan kalian. sedang
sejelek-jelek pemimpin kalian adalah mereka yang kalian benci dan
membenci kalian, yang kalian laknat dan melaknat kalian. Kami
berkata, ”Wahai
Rasulullah tidaklah kita lawan mereka ? ”beliau bersabda, ”Tidak
usah, sepanjang mereka menegakkan Shalat.”
(HR Muslim)
ke Daftar Isi ↑
10. Munculya Sentral Kekuatan Dalam Barisan
Salah satu faktor yang
menyebabkan kehancuran adalah lahirnya berbagai markas kekuatan
ditubuh gerakan. Pada saat yang kepemimpinan lemah, sehingga ia tidak
memilki kemampuan mengusai gejolak, menegakan keseimbangan,
mengendalikan dan meredakan perselisihan serta pertengkaran.
Faktor penyebab lahirnya
markas kekuatan itu bermacam-macam. Adakalanya disebabkan oleh
perhatian terhadap aspek politik yang terlalu dominan atau pemberian
penghormatan kepada individu tertentu terlalu berlebihan. Mungkin
pula karena berlebihan dalam memperhatikan aspek kemiliteran,
sehingga melahirkan rasa bangga diri dan congkak para kadernya.
Sebab yang lain adalah
perasaan gila hormat, yang menjadikannya berani membayar berapapun
untuk memanjat tembok kekuasaan. Apabila ambisi ini telah mendapat
peluang yang baik dan unsur-unsur pendukungnya semakin kuat, maka
sampailah ditahapan puncak yang sulit untuk kembali turun. Ditempat
inilah penyakit congkak dan takabur telah hinggap, yaitu iblis
tatkala berkata, ”Saya
lebih baik darinya (Adam). (Allah) ciptakan aku dari api dan
menciptakan dia dari tanah.”(Shad
:76)
Sesungguhnya,dalam Islam
ketaatan kepada pemimpin merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah
dan Rasul-Nya, sebagaimana Firman Allah Swt.,
“
Wahai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ulil amri dari
kalian.” (An-Nisa
: 59)
Juga sabda Rasulullah Saw.,
“ Barangsiapa taat
kepadaku, maka ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa
membantahku, maka ia telah bermaksiat kepada Allah. barangsiapa taat
kepada pemimpin, maka ia telah taat kepadaku dan barangsiapa
membantah pemimpin, maka ia telah membantahku.” (Mutafaq
alaih)
Ketaatan ini wajib diberikan
oleh setiap individu disegenap posisi dan kedudukannya, sekalipun
mereka adalah anggota dewan pimpinan, sehingga otoritas instruksi
hanya berada di satu tangan dan pusat kekuatanpun hanya satu. Apabila
tidak demikian, kepemimpinan akan bercabang, dan pada akhirnya
menumbuhkan pusat-pusat kekuatan baru. Dari sinilah awal keguncangan
menimpa.
Satu hal yang aksiomatik,
bahwa ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan kepada hal-hal yang
makruf, karena tidak ada ketaatan kepada mahluk dalam berrmaksiat
kepada khaliq.
Dari
Abu Hurairah r.a., berkata bahwa Rasulullah Saw.bersabda, “Hendaklah
kamu mendengar dan taat dalam kesulitan maupun kelapangan, dalam
gairah maupun keengganan serta ketika engkau tidak dipentingkan.”
(HR.Muslim).
Seseorang boleh saja menarik
baiatnya dari seorang pemimpin yang diketahui secara terang-terangan
melakukan kekufuran dan kefasikan. Kepercayaan yang telah diberikan
oleh ahlu al-hal wa
al-‘aqd kepadanya
dan diangkatnya ia menjadi pemimpin, ternyata hanya mendatangkan
mudharat yang lebih banyak dari pada manfaat. Akan tetapi, bila ia
keluar dari kepemimpinannya, itupun hanya menyulut keresahan, fitnah,
dan permusuhan. Ini adalah bisikan nafsu yang tidak satu dalil
syariatpun membenarkannya.
Batas-batas penolakan
seseorang terhadap sesuatu kebijakan atau sikap politik tertentu
biasanya dikarenakan hal-hal berikut.
a. Munculnya masalah yang
mengandung syubhat dan mendatangkan kerusakan. Siapapun
hendaknya sudi melakukan konfirmasi dalam menyikapi ekses semacam
ini.
b. Selisih
pendapat dalam menentukan tercapai atau tidaknya sebuah target. Hal
ini meskipun sepenuhnya hak memimpin, tidaklah salah jika para
personil ikut memberikan masukan dan pendapatnya.
c. Adapun hak seseorang untuk
membantah pemimpin hanya ditentukan oleh beratnya kemaksiatan yang
dilakukan olehnya kepada Allah, sehingga tidak ada satu alasan
syariatpun yang dapat membenarkan sikap dan perilaku tersebut.
Dari Ubadah bin Shamit r.a. ia
berkata, “ Rasulullah Saw. memanggil dan mengambil baiat.Ia
berkata, 'Beliau
membaiat kami untuk mendengar dan taat dalam keadaan sulit maupun
mudah, dalam keadaan semangat maupun malas, dan ketika tidak
dipentingkan, agar kami tidak mencopot kepemimpinan dari pemiliknya
kecuali bila dia melakukan kufur yang jelas, sehingga kalian bisa
memberikan hujah dihadapan Allah.'
” (HR.Bukhori)
Sesungguhnya pendalaman
terhadap makna taat akan mendatangkan pengetahuan tentang nilai-nilai
syariat yang harus dijadikan pijakan. Salah satunya adalah pemimpin
berhak menentukan beberapa pilihan bagi langkah politiknya, asal
tetap dalam batas yang diperbolehkan dengan tetap mempertimbangkan
situasi, kondisi dan kemaslahatannya. Rasulullah Saw. pernah
memperlakukan beberapa tawanannya dengan sikap yang berbeda-beda.
Sebagian ada yang dibebaskan, ada yang dibunuh, ada yang ditebus
dengan harga tertentu, atau ditukar dengan kaum muslimin yang
ditawan. Itu semua dilakukan dengan pertimbangan kemaslahatan.
Seorang pemimpin memiliki
hak-hak syariat untuk memerangi, berdamai, atau membuat perjanjian.
ini dilakukan juga dengan pertimbangan kemaslahatan, dengan syarat
semua itu dilakukan melalui konsultasi
dan musyawarah.
Ia memiliki wewenang mengambil
salah satu kebijakan politik diatas, mendahulukan salah satu, dan
menunda yang lain sesuai dengan pertimbangannya. Demikian juga para
kader
hendaknya siap menerima putusan pemimpin meskipun kadang bertentangan
dengan pendapat dan pandangannya, kecuali apabila melihat putusan
yang diambil oleh pemimpin itu keluar dari Islam dan bertentangan
dengan kepentingan kaum muslimin. Ketika itu terjadi,
komfirmasikanlah, mintalah penjelasan dan pertanyaan dengan dalil dan
argumentasi yang sehat, tanpa mengabaikan etika dalam melakukan
konfirmasi, meminta keterangan dan mengkritik.
br/>
ke Daftar Isi ↑
11. Kegagalan dan Kehancuran Bangunan Gerakan
Salah satu faktor yang dapat
melahirkan perbedaan dan perselisihan yang mengakibatkan kehancuran
adalah kegagalan gerakan dalam menangani masalah yang urgen atau
kekalahannya dalam kontestasi. Apabila sumber kekalahan itu (dainggap bersumber) dari pemimpin.
Telunjuk akan
diarahkan kepadanya saja. Dari sinilah Hawa nafsu mulai bergerak.
Sedikit Kesalahan dan kekecewaan yang telah lama terkubur bangkit
kembali. Seakan-akan inilah kesempatan baik dan peluang emas yang
tidak boleh disia-siakan.
Dalam sekejap, nilai-nilai
syariat terlupakan, objektivitas dan kejernihan pikiran tiada lagi,
hawa nafsu yang berbicara, emosipun tak lagi terkendali, dan fitnah
berkobar. Akhirnya, semua itu mendorong iblis menguasai jiwa.
Na’udzubillah min
dzalik.
Jiwa yang lengah dan antara
dia dengan setan telah terjalin ikatan, menyebabkan pemiliknya lupa
saudaranya. Ia lupa, bahwa
“
Seorang
Muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. ia tidak mengkhianati,
mendustai, dan tidak pula membiarkannya.”
(HR Tirmidzi)
Ia lupa segala-galanya hingga
berubah menjadi binatang buas yang siap menerkam saudaranya tanpa
rasa takut dan malu pada Allah Swt. Ingatlah bahwa dalam pembunuhan,
ada yang bisa menyebakan seseorang menjadi kafir.
Dalam lembaran sejarah kita
masa kini, kita mencatat pengalaman pahit yang menyedihkan. Kita
memohon kepada Allah agar mengentaskan mereka dari fitnah sebelum,
berhasil merobek dan memorak-porandakan mereka dengan tragis.
Penyebab langsung fitnah ini adalah apa-apa yang telah saya sebutkan
terdahulu.
Telah terjadi kehancuran yang
harus dibayar mahal oleh gerakan, baik dengan para tokoh maupun
pemudanya. Awalnya saling mencela, menuduh, mengritik, dan melukai
perasaan. Akhirnya berlanjut sampai batas saling mendengki. Kemudian
porak-porandalah barisan bersama qaidah
(tatanan) dan qiyadah (pemimpin)nya sekaligus. Na,udzubillah
min dzalik.
Andaikata mereka berpegang
teguh dengan etika Islam dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut,
maka selesailah segalanya dengan segera. Akan tetapi, itulah nafsu.
Ia menjadikan kita lalai terhadap seluruh ajaran serta
bimbingan-bimbingan Al-qur’an dan hadits, seolah-olah sudah
merupakan stempel yang dicapkan, sebagaimana Rasulullah Saw.
Mengisyaratkan, “
Sebuah
stempel menggantung di tiang Arsy Allah Azza wa Jalla.
Apabila kehormatan dirusak, kemaksiatan dikerjakan, dan Allah
direndahkan, maka ia mengutus stempel itu. dicaplah hatinya hingga
setelah itu ia tidak bisa berfikir sedikitpun” (HR.Baihaqi).
Disebutkan dalam kitab Adab
Al-Ikhtilaf Fi Al-Islam oleh Dr.Thoha ‘ulwan sebagai berikut.
“Setelah
kita menyimak beberapa permasalahan ikhtilaf, kita menyimpulkan bahwa
hawa nafsu tidak megendalikan seorangpun dari kalangan sahabat
Rasulullah Saw. Perbedaan
pendapat yang bisa mempertahankan adab dan etika Islam itu hanyalah
perbedaan yang motivasinya mencari kebenaran semata. Mereka
selalu berusaha menghindari perbedaan dan dengan sungguh-sungguh
meniadakannya, kecuali kalau memang tidak ada jalan untuk
mempersatukannya. Apabila mereka memiliki beberapa alasan yang bisa
menyatukan, mereka dengan segera menerimanya. Mereka mengakui
kesalahannya tanpa perasaan rendah diri sedikitpun. Tidak seorangpun
dari mereka melampui batas kemapuannya sendiri dan tidak pula
meremehkan sesamanya. Masing-masing dari mereka mengetahui bahwa
pendapat itu mengandung nilai yang relatif. Kebenaran mungkin berada
pada apa yang ia yakini, maka itulah yang benar baginya. Namun
mungkin kebenaran itu berada pada apa yang diyakini orang lain, maka
itulah yang benar baginya. Tidak aneh bahwa apa yang ia anggap benar
ternyata keliru dan bukan aib pula bila ternyata yang ia anggap
keliru ternyata benar. Dahulu, ukhuwah islamiyah diantara mereka
menjadi bagian dari prinsip-prinsip agama yang amat penting, sebab
tiada penegakan Islam kecuali dengannya. Ia berada diatas perbedaan
pendapat dalam masalah ijtihad.”
Demikianlah, sesungguhnya
perbedaan pendapat yang terjadi pada masa-masa awal dahulu, meskipun
sampai melahirkan peperangan, tidak mengeluarkan mereka dari etika
Islam. Perbedaan Ali dan Mu’awiyah, meskipun meskipun demikian
hebat, tidak mengeluarkan salah satu diantara keduanya dari adab dan
etika itu.
Abu Nu’aim telah
meriwayatkan dari Abi Shalih, ia berkata bahwa Dharar bin Shakhrah
Al-kinaniy suatu saat menghadap Mu’awiyah. Mu’awiyah pun
berkata,”Katakan
kepadaku tentang Ali. ”Berkata Dharar, ”Atau
tidak usah saja, wahai Amirul mukminin?” ”Tidak!
kau harus katakan!” hardiknya. Dhararpun berkata, ”Kalau
harus aku katakan, maka sesungguhnya demi Allah, ia tinggi dan kuat,
bicaranya runtut, keputusannya adil, ilmu mengalir dari kanan
kirinya, dan dari sela-sela giginya keluar hikmah. Ia mengasingkan
diri dari Dunia dan gemerlapnya, ber-'asyiq
ma’syuq dengan
malam bersama gulitanya. Dan demi Allah, air matanya deras,
berpikirnya panjang, telapak tanganya selalu bergetar, dan selalu
berkata kepada diri sendiri. Pakaiannya menakjubkan lantaran
kesederhanaannya, makanannya juga demikian lantaran kesahajaannya.
Demi Allah, dia sebagaimana kita semua. Bila kami datang kepadanya
Dia mendekat dan bila kita bertanya, ia menjawab. Lantaran kedekatan
beliau dengan kami, kami tidak sungkan bila berbicara dihadapannya.
Apabila ia tersenyum tampak giginya seperti mutiara berkilau dan
teratur, ia menghormati ahli agama dan mencintai kaum fakir miskin.
Orang yang kuat tidak bisa berharap (pembelaan) karena kebatilannya
dan orang yang lemah tidak putus asa dengan perbuatan adilnya. Maka
saya bersaksi, demi Allah saya pernah melihatnya dalam beberapa
kesempatan, ketika malam telah menurunkan tirainya dan
bintang-bintang telah masuk kesarangnya, ia menunduk khusyuk di
mihrabnya dan tangannya menggenggam jenggot. Ia gemetar seperti orang
sakit demam dan menangis laksana orang dilanda kepedihan.
Sekonyong-konyong saya mendengar ia berkata, ’Wahai
Tuhan kami, wahai Tuhan kami, ’dengan tunduk dan pasrah kepada-Nya.
Ia berkata kepada dunia, ’Kepadakukah
engkau memamerkan diri? Untukkukah engkau menghias diri? tidak
mungkin, tidak mungkin. Rayulah orang selainku. Aku telah menceraimu
sebanyak tiga kali lantaran usiamu pendek, majlismu hina, dan
bahayamu tidak seberapa. Aduhai! Aduhai! bekal hanya sedikit
sedangkan perjalanan teramat jauh dan jalannya pun sulit.”
Serta merta, air mata
Mu’awiyah pun mengalir membasahi seluruh jenggotnya hingga ia
menyekanya, sementara orang-orang hanyut dalam tangisnya. Berkata
Mu’awiyah, “ Demikian itulah Abu Hasan rahimahullah.”
Salah seorang dari mereka
pernah memperoleh berita tertentu dari ummul mukminin ‘Aisyah r.a.
Lantas ia mendatangi Amar bin yasir. Dalam perang Jamal, ia tidak
berada dipihak Aisyah. Berkatalah Amar bin Yasir r.a.kepadanya, “
Saya tidak akan berkomentar, agar tidak keliru. Apakah engkau akan
menyakiti kekasih Rasulullah? Saya bersaksi bahwa ia adalah istri
Rasulullah Saw. di surga. ’Aisyah r.a. telah melangkah padanya.
Akan tetapi, Allah Swt. bermaksud menguji kita dengannya agar Dia
tahu kepada Allahkah kita taat, atau kepadanya (Aisyah)”
(HR.Baihaqi).

Posting Komentar