Bagaimana Menjaga Kekokohan Bangunan Dakwah?

Table of Contents

Setelah mengetahui beberapa faktor yang menyebabkan robohnya gerakan dakwah, maka perlu untuk ditelaah hal-hal apa saja yang perlu dilakukan oleh para da'i agar organisasi dakwah tetap eksis dan tegak menjalankan misinya? Dr. Fathi Yakan mengemukakan beberapa faktor berikut yang perlu dibangun dan dijaga oleh para da'i dan pemimpinnya demi menjaga eksistensi dan orisinalitas gerakan dakwah.

Daftar Isi [klik untuk ke konten]

1. Tegakkan Bangunan di Atas Landasan Takwa kepada Allah

Menegakan bangunan atas dasar takwa kepada Allah Swt. pada seluruh elemennya adalah suatu keharusan. Takwa harus menjadi landasan amal Islami seluruhnya. Ia menjadi perlindungan keamanan baginya. Selain aktivitas Tarbawi (pembinaan), maka aktivitas siyasiy (politik) pun mesti dibangun dengan landasan takwa. Sebagaimana halnya bidang iqtishadi (ekonomi), ijtima’i (sosial kemasyarakatan), maupun mali (harta benda) wajib ditegakkan tanpa mengandung sedikitpun nilai syubhat.
Allah Swt. berfirman,
Maka apakah orang-orang yang medirikan bangunannya diatas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya ditepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia kedalam neraka Jahanam ? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang orang yang zalim.” (At-taubah : 109).
Sebuah gerakan dakwah, manakala mampu menjaga nilai-nilai ajaran Allah dan Takwa kepada-Nya, bisa mengatur langkahnya, menentukan sikapnya, dan mengambil keputusan yang terbaik, baik untuk target jangka pendek maupun jangka panjang, baik terhadap musuh maupun kawan, ia akan menjadi gerakan yang terhormat.
Ketika mejaga nilai-nilai ajaran Allah dan takwa kepada-Nya, baik dalam kondisi perang maupun damai, kondisi sempit maupun lapang, juga saat sejahtera maupun penuh kesulitan, senatiasa mendidik dan membina para individunya dengan landasan tersebut dan konsisten denganya, mampu mewujudkan takwa kepada-Nya, merasa diawasi oleh-Nya, bersemangat mencari kebenaran secara terus-menerus pada diri mereka dengan naungan ridha-Nya, maka ia menjadi gerakan dakwah yang mapan dan kukuh pijakannya.
Tatkala ia memiliki perhatian untuk mewujudkan cita-cita diatas hingga tidak dipalingkan oleh kesibukan apapun dan berapapun banyaknya, maka gerakkan dakwah semacam ini akan senantiasa terlindungi, dengan seizin Allah, dari faktor penghancur dan terpelihara dari perangkap hawa nafsu serta bisikan setan.
Untuk mendalami pengetahuan tentang keutamaan takwa dalam gerakan dakwah Islam, baik dalam diri anggota maupun pemimpinnya, kita mesti tegak diatas manhaj Nabi dalam proses tarbiyah ruhiyah (pendidikan spiritual).
Pendalaman Ajaran Allah dan penggalian syariat-Nya, untuk mengenal halah, haram, sunnah, makruh, dan lain-lain secara baik, termasuk faktor yang membantu mewujudkan takwa dan amal saleh.
Rasulullah Saw. bersabda,
Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka ia akan dipandaikan dalam urusan agama.” (HR Bukhari)
Syarat untuk meraih itu semua adalah jika dalam mencari ilmu dan pendalamannya semata ditujukan karena Allah dan dalam rangka mencari ridha-Nya. Apabila tidak demikian, maka masuklah ia dalam golongan orang yang pernah diperingatkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya,
Barang siapa mencari ilmu untuk diperhitungkan oleh kalangan intelek dan untuk dihormati orang-orang bodoh serta untuk menarik perhatian orang banyak, maka Allah memasukkannya ke neraka Jahanam.” (HR.Ibnu Majah)
Ihsan dalam beribadah kepada Allah merupakan pintu strategis bagi masuknya ketakwaan kepada Allah. Rasulullah Saw. mengisyaratkan hal ini ketika ditanya tentang ihsan. Beliau Saw. Bersabda, ”Ihsan adalah bahwasannya engkau bribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Shalat ketika ditunaikan dengan ihsan dan disertai hadirnya kalbu akan membangkitkan rasa Wara’ dalam jiwa dan takut kepada Allah, Sebagai mana firman-Nya,
Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.” (Al-Ankabut :45).
Shaum, apabila dilaksanakan dengan cara yang benar akan menjadi sebuah madrasah (tempat pembinaan)bagi ketakwaan, sebagaimana firman Allah,
Hai orang-orang yang beriman,diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah 183)
Zikrullah yang dilaksanakan secara yang dilaksanakan secara kontinue akan dapat menentramkan hati dan melindungi jiwa dari bisikan-bisikan setan, selain memberi pelakunya sebuah kenikmatan hidup bersama Allah dan pengawasan-Nya. Dalam wasiat Nabi Daud a.s.kepada kaumnya dikatakan, ”Saya perintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah. Karena penjagaan yang paling ketat bagi hamba Allah adalah Zikrullah. Ini semisal orang yang dikejar-kejar musuh lalu mendatangi benteng dan berlindung didalamnya, maka terlindunglah ia dalam benteng itu.”
Manakala rasa diawasi Allah terasa lemah dalam jiwa, tidak menjadikannya pilar yang menguatkan fisik untuk beraktifitas, maka jadilah ia bola mainan setan yang pola pikir, ucapan, dan logika-logikanya merupakan refleksi dari pemutar balikan iblis.
Orang yang tidak bertakwa kepad Allah, ia berpotensi untuk melakukan kejahatan dan orang lain tidak merasa tenteram berada disampingnya.
Orang tidak bertakwa kepada Allah Swt, tidak takut dirinya terperosok kedalam api fitnah dan tidak pula berhati-hati terhadap Ghibah dan Namimah diantara sesamanya.
Barangsiapa tidak bertakwa kepada Allah, ia tidak memiliki kekuatan untuk mengendalikan mulut dari menyakiti sesama dengan ucapanya akhirnya menimbulkan retaknya hubungan.
Barang sipa tidak bertakwa kepada Allah, kemungkinan dengan mudah akan menjual agama dan dakwahnya dengan satu atau dua keping uang, sebanding dengan dirinya yang sangat lemah dalam menghadapi ujian dan cobaan. Barang siapa tidak bertakwa kepada Allah, ia akan memperdagangkan dirinya dengan Islam atau memperdagangkan Islam dengan dirinya, ia menawarkan diri atas nama Islam atau ia menawarkan Islam atas nama dirinya.
Barangsiapa tidak bertakwa kepada Allah itulah dia yang disinggung oleh firma-Nya,
Maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari tuhanmu,mereka pasti akan berkata, sesungguhnya kami adalah besertamu. ”bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia? Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik.” (Al-Ankabut :10-11)
Barangsiapa tidak bertakwa kepada Allah, ialah yang dimaksud dalam firmannya.
Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaran itu tidaklah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.” (Al Mujadilah :10)
Dan orang-orang tidak beriman kepada Allah,merekalah yanhg disebut dalam ayat Al-Qur’an,
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) pebuatan yang amat keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih didunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (An-Nur :19)
Orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah, ialah yang dimaksud dalam firman-Nya,
Dan kebanyakan mereka tidak mengetahui kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu sedikitpun tidak berguna untuk mencapai kebenaran. dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang mereka kerjakan (Yunus :36)
Dan orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah itulah yang diperingatkaan Al-Qur’an,
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka terhadap Rasul, dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu Semua akan dikembalikan.” (Al Mujadilah :9)
Mereka yang tidak bertakwa kepada Allah itulah yang dimaksud Ayat Al-Qur’an,
Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras dan rencana jahat mereka akan hancur.” (Fathir : 10)
Selanjutnya saya ingin menyimpulkan dari pembicaraan diatas bahwa sesungguhnya takwa adalah benteng pertahanan keamanan, baik bagi individu maupun bagi jamaah. Selain itu, ia juga merupakan faktor penyebab keberhasilan sebuah aktivitas dan cahaya yang menerangi cara pandang dan pola pikir, juga sebuah kekuatan yang dengan itu seseorang mampu dengan ringan menjauhi kemaksiatan dan syubhat, apalagi tindakan keji dan merusak.
Tidaklah berlebihan kiranya bila saya katakan bahwa segala bentuk kesulitan dan masalah, sumbernya adalah kelemahan takwa dan sedikitnya wara’, baik ditingkat individu kader maupun pemimpinnya. Pada yang terakhir inilah musibah yang menghancurkan sering terjadi.
ke Daftar Isi ↑

[Bersambung...]

Posting Komentar