Penguasaan Seorang Da’i Dalam Berdakwah
Table of Contents
Penguasaan Dakwah
Daftar Isi (klik pada subjudul untuk membaca langsung materi)
Penguasaan dakwah adalah kemampuan seorang da’i dalam menarik perhatian dan merangkul orang-orang dalam suatu kelompok yang mempunyai beraneka ragam cara berpikir, pemahaman, perberbedaan kedudukan dan budaya.
Seorang da’i bisa
di anggap sukses jika ia mempunyai kemampuan dalam menyampaikan pesan yang mendalam kepada objek dakwah meski mereka itu mempunyai perbedaan dalam cara hidup, tradisi,
dan latar belakang sosial.
Dengan kata lain,
sesungguhnya penguasaan dakwah atau daya pikat itu merupakan suatu senjata
utama dan terpenting bagi seorang da’i. Dengan demikian, penguasaan dakwah bisa
menjadi suatu keampuhan pribadi dan ketinggian budi atau kesucian iman yang
dianugrahi oleh Allah dan semua hal itu akan sangat menentukan kedudukan para
da’i sebagai penyeru dan pemimpin masyarakat. Dengan kata lain bahwa tanpa penguasaan dakwah seorang tak pantas
disebut sebagai da’i dan dakwahnya juga tak akan memiliki daya pengaruh yang kuat.
ke Daftar Isi ↑
Perbedaan Penguasaan Dakwah
Sebagaimana lazimnya manusia, para da’i juga mempunyai kapasitas dan daya pengaruh yang berbeda-beda. Tentu daya pikat dan pengaruh terhadap pemikiran dan simpati orang lain juga berbeda pula antara da'i yang satu dengan lainnya. Namun perlu kita catat bahwa tanpa memiliki daya pikat untuk mempengaruhi pemikiran dan meraih simpati objek dakwah, Sang Da'i tak akan dianggap sebagai da’i yang sukses dalam terminologi dakwah.
Hal lain, jika
seorang da’i tidak menguasai kemampuan berdakwah , bukan saja dakwahnya menjadi mandul
dalam menciptakan ide dan gagasan tapi ia juga akan menimbulkan kesan yang salah terhadap Islam. Karena itu banyak sekali kita temui orang yang dianggap da’i tapi kurang memberikan manfaat bagi dakwah yang ada malah merusak, bukannya membangun tetapi menghancurkan, sehingga kehadiran mereka menjadi momok bagi orang lain dan menimbulkan rasa
antipati.
Lantas, siapakah
yang dapat dianggap sebagai da’i dalam arti sesungguhnya?
Dalam hadis yang disampaikan oleh Abu Musa Al-Asy’ari, Nabi saw menerangkan kriteria seorang da’i yang didambakan Islam.
Beliau barsabda:
“Petunjuk dan
ilmu yang kubawa dari Allah ibarat hujan yang jatuh ke bumi. Ada bagian tanah
di permukaan bumi ini yang baik untuk menyerap dan manahan air, sehingga banyak
rumput dan pepohonan yang tumbuh. Adapula yang menahan air sedemikian rupa
sehingga menjadi danau atau sungai yang dapat digunakan airnya untuk minuman
atau irigasi. Namun ada pula yang bagaikan cerobong saja tampa menahan air
sehingga tak berfungsi sama sekali, baik sebagai waduk ataupun tanah subur.
Begitu pulalah ibarat orang yang menerima dan mendalami Din (petunjuk) dari
Allah, di antaranya ada yang memperoleh manfaat bahkan mengajarkan pula ilmunya
tersebut kepada orang lain, tapi ada pula yang diberikan Allah tersebut
sehingga ibarat masuk telinga kiri keluar kembali melalui telinga kanan tampa
bekas. “ (H.R. Bukhari dan Muslim)
ke Daftar Isi ↑
Kemampuan dan Keberhasilan Dakwah
Keberhasilan misi dakwah sangat erat hubungannya dengan kemampuan menguasai medan dakwah itu sendiri. Jika para da’i mempunyai kemampuan memikat pemikiran dan simpati orang-orang banyak akan sangat mungkin memperoleh hasil yang memuaskan dan justru sebaliknya jika para da’i tak mempunyai daya pikat dan kurang mampu menguasai medan dakwah, maka tak akan dapat mencapai tujuannya sehingga akan digantikan oleh dakwah model lain sebagaimana dinyatakan oleh firman Allah swt:
“Dan engkau tak
akan mungkin mengubah Sunnatullah. “ (Q.S. Faatir: 43)
Dan dalam
firman-Nya yang lain:
“Jika kalian
Berpaling, niscaya Allah akan mengganti dengan umat lain yang tidak sama dengan
kalian kualitasnya. “ (Q.S. Muhammad: 38)
ke Daftar Isi ↑
Penguasaan Medan Luar dan Medan Dalam
a. Penguasan medan luar
Penguasaan medan luar ialah merangkul orang-orang (kelompok) yang berada di luar jangkauan medan tertentu dari dakwah atau belum terikat dengan peraturan-peraturan Islam.
b. Penguasaan
medan dalam
Penguasaan medan dalam ialah memberi arahan kepada orang-orang yang telah terorganisasi bahkan telah biasa dan akrab dengan aktifitas-aktifitas keagamaan serta dipersiapkan sebagai calon da’i pengemban tugas-tugas dakwah.
Kedua medan ini
saling berkaitan, satu sama lain akan saling melengkapi. Keduanya membutuhkan
kemampuan yang optimal dalam penguasaan. Sebab itu, dapat disimpulkan bahwa
pengelolaan medan luar, merupakan kerja analisis sistematis dan terarah,
sementara upaya di medan dalam dapat diartikan sebagai kerja mencetak, membuat
atau memproduksi dan tentu saja kedua bidang ini menuntut
persyaratan-persyaratan khusus untuk mencapai maksud dan tujuannya.
Bersambung...
Disarikan dari buku Penguasaan Da'i dalam Berdakwah karya Dr. Fathi Yakan
ke Daftar Isi ↑
Bersambung...
Disarikan dari buku Penguasaan Da'i dalam Berdakwah karya Dr. Fathi Yakan

Posting Komentar